Bedah MSF Mulai Bekerja di Sigli, Sebelah Timur Banda Aceh

Banda Aceh - Kedatangan suplai barang serta staf tambahan MSF ditunda akibat adanya penutupan Bandara di Banda Aceh pada hari Selasa kemarin. Dengan 120 ton barang-barang bantuan yang dibawa MSF pada hari-hari sebelumnya, hingga saat ini bahan persediaan untuk menjamin keberlangsungan kerja tim medis MSF masih mencukupi, walau persediaan makanan bergizi mulai menipis. Rainbow Warrior, Kapal Greenpeace,telah meninggalkan Medan kemarin (4/1) dengan membawa tim medis MSF beserta barang-barang bantuan. Kapal ini ditawarkan kepada MSF untuk digunakan sebagai alat trasportasi, untuk mempermudah akses ke masyarakat di pesisir pantai. Kapal tersebut dijadwalkan akan tiba di Banda Aceh hari ini (5/1). Masalah yang muncul di bandara, tidak mengganggu jadwal penerbangan helikopter MSF. Helikopter tersebut kemarin terbang ke Lamno dan Lampe-Ngo di pesisir barat untuk mengirimkan 270 kg beras, 100 terpal serta menurunkan tim ahli sanitasi dan air bersih. Di kedua lokasi tersebut, MSF tinggal untuk bermalam. Dalam perjalanan kembali, helikopter membawa 7 pasien yang perlu dirawat di rumah sakit. Mereka saat ini sedang di rawat di RS karena kasus patah tulang kaki, luka infeksi dan amputasi. Hari ini tim MSF terbang menuju Meulaboh untuk melihat kebutuhan di rumah sakit serta untuk membantu penduduk di sana. Dengan menggunakan helikopter, MSF juga melakukan pengamatan terhadap kondisi di Breueh, di sebelah barat laut Banda Aceh. Tim dari sebuah televisi menyaksikan 200 orang yang mengungsi dari pulau tersebut dengan menggunakan kapal nelayan, pada malam sebelumnya. Hal ini mengindikasikan situasi yang sangat buruk serta tidak adanya dokter. Tim penilai situasi (the assessment team) dari udara melihat bahwa di pulau tersebut masih ada sejumlah kecil penduduk dan beberapa tempat pengungsian. Untuk itu, tim MSF meninggalkan bantuan berupa beras, terpal plastik dan jerigen. Di pesisir timur, MSF sudah mulai bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Sigli dengan tim bedah. Sigli merupakan ibukota kabupaten Pidie, sebuah daerah yang cukup parah terkena dampak tsunami. RS dengan 35 tempat tidur tetap beroperasi dengan bantuan tenaga relawan MSF dari Indonesia untuk memberikan perawatan medis dan bedah. Seorang relawan ahli bedah telah kembali pulang kemarin, hal ini menjadi alasan kuat buat MSF membentuk tim bedah segera. MSF mendapatkan ruang bedah yang penuh dengan pasien luka-luka di Sigli. Setiap hari jumlah korban luka yang datang semakin banyak, datang dari wilayah sekitar Pidie dan juga Banda Aceh. Pada 60 konsultasi medis pertama, MSF mendapati 20 diantaranya menderita luka infeksi; salah satu diantaranya dibawa ke RS Fakine di Banda Aceh. Tim MSF juga telah melakukan pembedahan bagi 6 orang yang menderita luka. Di lokasi yang sama, MSF mulai mengoperasikan klinik keliling bagi para pengungsi di Kembang Tanjung. Para pengungsi tinggal di 60 tempat pengungsian dengan perkiraan jumlah total pengungsi sebanyak 47 ribu orang. Agar dapat memberikan bantuan segera, MSF memusatkan perhatian pada tempat-tempat pengungsian yang besar, yang menampung sekitar 3000 orang per tempat pengungsian. Di daerah sebelah timur Sigli, tepatnya di Rumah Sakit Umum Daerah Bireun, MSF menyumbangkan obat-obatan dan peralatan infus, serta memulai hubungan untuk suplai bahan medis dengan tim MSF di Sigli. Di RS tersebut terdapat 400 pasien, di mana setiap harinya datang 50 pasien baru; 80 persen pasien baru tersebut berasal dari Banda Aceh. Staf RS dapat mengatasi jumlah pasien yang banyak, namun MSF tetap akan menjalin kontak rutin dengan mereka. Klinik keliling di Banda Aceh beroperasi di antara 1000 pengungsi di sekitar mesjid di daerah Cot Keu Eung. Dari 141 konsultasi medis yang telah dilakukan, kasus utama yang ditemui adalah luka-penyakit kulit dan infeski saluran pernapasan. Saat ini staf MSF yang berada di Aceh berjumlah 57 orang, 37 diantaranya adalah staf Indonesia. Pada hari berikutnya akan ada banyak staf MSF bertugas ke Aceh.